Sebelum Aku Tidur
Belakangan ini sering sekali hujan menjadi pelengkap setting hari-hariku. Bersinergi dengan apa yang sedang kurasakan. Pun malam ini. Menambah keenggananku untuk balik ke sana lagi. Entah sejak kapan, aku enggan. Bukan hanya karena nyamannya rumah yang begitu kurasakan ketika aku pulang. Bukan hanya karena itu. Alasan itu tak akan kutuliskan di sini. Terlalu bosan dan capek membicarakan atau menuliskannya.
Bersinergi. Kata yang mungkin masih asing terdengar bagiku ketika beberapa tahun yang lalu. Ketika aku sadar, sekarang ini aku berada di bangku kuliah. Amat berharga kesempatan yang aku punya. Tak semua orang bisa merasainya.
Akan aku tuliskan di sini mengenai kebiasaan untuk beralasan. Setelah tadi melihat salah satu acara di televisi. Acara yang cukup menginspirasi. Acara yang diisi oleh motivator dengan suara yang dalam dan penuh empati (memang begini menurutku). Aku mungkin selama ini sudah menjadi master of alasan yang sangat handal. Beralasan demi pembenaran melakukan suatu penundaan.
Kali ini juga. Aku menunda tidur malamku dengan alasan akan menulis. Aku suka menulis di tengah malam. Meski besok aku akan kembali ke sana, aku tak peduli. Apa ini baik? Menunda tidur malam? Sama sekali tidak. Besok aku akan berkendara selama dua jam. Saat-saat seperti itu, sering sekali aku merasa mengantuk.
Namun, kau tahu? Kita semua sering mengabaikan semua demi apa yang kita sukai. Asalkan kita bisa melakukannya, kita pasti akan rela. Aku rela meskipun aku mengantuk. Aku berani mengambi resiko untuk apa yang aku hadapi besok. Karena, menulis adalah salah satu obat bagiku saat ini.
Setelah seharian tadi, hujan. Setelah seharian tadi kelegaan belum juga datang. Setelah aku harus dihadapkan dengan keinginan yang tak sesuai dengan kenyataan. Aku bercerita pada kata. Aku ceritakan semuanya.
Hari ini aku berdiplomasi. Setidaknya, aku sedikit lega. Meskipun apa yang kuanggap sebagai solusi belum memenangkan diskusi. Ya, aku belum sepenuhnya menerima. Mungkin aku termasuk orang yang amat perasa. Aku tak ingin membesar-besarkan atau mengecilkannya. Hanya kuharap mereka mau mendengarkan dan mencoba memahami apa yang kurasa.
Hey, tetapi aku akan terus berdoa untuk proses pendewasaan yang kualami kali ini. Bukankah hanya pada-Nya, kita memohon dan meminta? Seperi yang telah disampaikan di acara televisi yang tadi kusaksikan, kita tidak boleh membatasi kuasa Tuhan saat meminta. Jadi, lebih baik meminta kaya dan bahagia. Terlepas dari pendapat orang umumnya, lebih baik hidup miskin tetapi bahagia daripada kaya tetapi tidak bahagia. Aku percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa. Jika Ia menghendaki, apapun akan berjalan sesuai skenario yang dibuat-Nya.
Hari ini tadi, aku juga mengunjungi salah satu temanku. Bersilaturahmi katanya bisa memanjangkan usia dan mendekatkan rezeki, ya? Terlepas dari itu semua, aku memang kangen padanya. Alhamdulillah, aku banyak makan hari ini. Masakan ibuku yang sangat kusuka.
Cukup malam. Aku benar-benar mengantuk sekarang. Besok ada uts biologi. Juga presentasi LPSD. Ehm, ada status teman yang menuliskan bahwa ia sangat ingin jadi guru SD. Aku akan tanamkan itu setiap hari sebelum aku tidur, mulai sekarang. Karena, aku meyakini, ini adalah jalanku. Semoga saja langkahku dipermudah. Amin…. Besok, semoga menjadi hari yang lebih baik. Agenda rapat KMIP juga menungguku besok sore. Keikhlasan… semangat… kontribusi…. Sungguh, aku ingin menjadi bermanfaat.
So… Lo…. 27 maret 2011
11.51pm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar