Selasa, 22 Maret 2011

Mupeng Ngekos, Mak….. T.T

Kuakui aku memang bukanlah orang yang stabil. Apa yang kurasakan akhir-akhir ini terasa sangat padat. Rasanya, seperti ada yang ingin meledak, ingin berteriak, apa saja, yang bisa membuat lega. Sebelumnya, akan kutulis apa maksud catatan ini. Bukan semata-mata untuk dibaca, ada hal lain lagi yang lebih. Ingin mengenang apa yang kurasakan, dalam bentuk yang lebih jelas daripada hanya jikalau hal ini melayang-layang bebas di otakku saja. Ingin mengurai semuanya menjadi lebih sederhana dari yang selama ini ruwet berada di dalam hatiku. Ingin mengenal diriku lebih dalam lagi lewat tulisan yang kubuat ini.

Sudah lama tak menulis, benar-benar lama….. Malam ini (Jumat malam, 18 Maret 2011), sepulang dari kampus, setelah maghrib, mandi, makan dan sholat isya. Kubuka laptopku. Ah, ngerjain tugas. Namun, pet…………. Laptop mati dan niatan ngerjain tugas terhenti. Pengen nulis lewat FB selluler, tapi karena baru seruwet ini, kuurungkan. Akan menjadi sangat panjang dan tak jelas. Meraih buku, lalu menulis….
Niatan itu muncul di pikiranku sudah sejak beberapa bulan yang lalu. Apa yang kurang sudah disiapkan. Hari jumat, 4 Maret sudah kuantar sebelum aku pulang ke Solo.

Hari itulah, hujan rintik menemani perjalananku. Sebelum kaca helm kututup rapat, rasanya mukaku seperti tertusuk-tusuk duri. Menyongsong tetes air hujan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ya, untuk saat itulah kesekian kalinya aku jatuh. Pertigaan dekat rumah, 5 menit sebelum sampai ke rumahku.
Motorku, bisa dibilang bertambah lagi lukanya. Pijakan kaki kiri (kalau g salah namanya four step ya??) yang dulu bengkok saat aku jatuh bersama ibuku, seketika itu patah. Otomatis harus di las. Bukan kali itu saja aku jatuh. Beberapa insiden yang pernah terjadi : jatuh waktu boncengin Irul, waktu boncengin ibu, terpeleset di pertigaan sepulang dari klinik, jatuh waktu boncengin teman sepulang dari kampus pusat, tertabrak dari belakang hingga slebor motorku patah. Yang paling kusesalkan adalah ibuku dulu sampai terbaring 3 hari karena pening. Lalu, layar hape temanku yang retak gara-gara ketidakhati-hatianku.
Aku jatuh terjerembab. Bibirku, lengan dan kaki kanan terbentur ke aspal. Aku benar-benar merasa nyaris untuk saat itu. Lebam-lebam, akhirnya… hal pertama yang kulakukan saat sampai di rumah adalah mengecek keadaan laptopku, yang untungnya, selamat… laptop yang baru diinstal ulang karena error itu, bisa menyala…. Fiuh….

Shock therapy berlanjut… 7 maret, sehari setelah up grading KMIP, ada telepon. Panggilan wawancara. Interview singkat tanggal 9 Maret itu menghadapkanku pada pilihan sulit. Jujur saja, aku sangat ingin membiayai biaya kost sendiri, tidak menumpang di rumah saudara terus menerus. Dengan begitu, aku harus menjalani kerja keras pukul 18.00-23.00 ataupun lebih. Lewat telepon kukabarkan pada orang tua. Setelah test 12 maret, kala itu Sabtu, ditetapkan bahwa hari senin, 14 Maret adalah hari pertamaku training.

Lalu, minggu adalah hari yang menyenangkan. Up grading HIMA ke Pantai Baru. Teringat waktu rihlah di Pantai Gua Cemara. Bedanya, minggu itu aku tak basah kuyup. Tak main air berlebihan, lagipula gelombang laut sangat besar mengingat pasca tsunami Jepang, 11 maret. Senang berada di tengah orang-orang hebat dengan pikiran mereka yang idealis. Sementara aku, cuek, apatis, sama sekali ga kritis. Hem, apa aku berada di kapal yang salah ya?? Sampai kali ini belum berhasil menemukan jawabnya….

Hari pertama training adalah pengalaman baruku selanjutnya. Hanya ada beberapa tugas awal. Mereka semua sangat baik. Mbak nur, Mbak Retno, Mas Evan, Pak Dimas. Canggung, tapi sedikit lega pula, penerimaan yang cukup ramah. Pulang melihat bulan purnama yang indah. Tak ada firasat apapun…. Baik maupun buruk.

Selasa itu ibuku berubah pikiran. Semangat yang membulat menjadi carut marut lagi. Betapa sulitnya, aku berangkat lagi. Kuceritakan mengenai izin ibuku ke sepupuku.

Aku masih memegang erat motivasiku. Aku akan menjalaninya untuk hidup dan rencanaku selanjutnya. Aku tak tahu, setelah sesiang itu bercerita pada beberapa orang teman, di tempat training aku menceritakan hal itu ke mbak dan mas yang ada di sana. Berharap berkurang ganjalan di hatiku. Namun, tetap sama rasanya. Dilema.

Rabu, aku tahu dari bapakku. Keputusan ibu ternyata mendapat intervensi dari sepupuku. Padahal aku percaya padanya. Tanpa memberiitahuku terlebih dahulu, dia malah telepon ibu. Memang berat bagi seorang ibu untuk memberi izin semacam ini. Tanpa intervensi siapapun, kecil untuk mendapat dukungan penuh. Namun, aku sangat kesal pada sepupuku atas apa yang dilakukannya itu.
Keinginan kuatku untuk ngekos sendiri seperti terpatahkan sia-sia. Kesempatan satu-satunya yang sudah kujalani seperti terhalang. Seperti hilang akal. Frustasi…. Hempf,,,,,, aku bingung bagaimana cara untuk bisa mewujudkan keinginanku. Aku punya teman-teman yang baik yang bisa kujadikan tempat berbagi. Perasaan tak enak yang beberapa bulan ini selalu mendominasi…

Kejutan terjadi. Pengumuman beasiswa Supersemar. Oh, god… inikah jalan lain itu??
Masih dengan kesal pada sepupuku. Aku ke tempat training tanpa izin terlebih dahulu. Langsung dari kampus. Rasa kesalku menambah kuat keinginan untuk ngekos… andai saja ada yang persis tahu bagaimana rasanya. Pendapat dari teman-temanku secara objektif mengemukakan apa yang kutempuh lebih banyak negatifnya dan cukup riskan. Aku sendiri, setengah hati kalau harus meninggalkannya.
Aku memang seperti ini…. Hampir tengah malam kubuka hape, beberapa pesan. Rasa tak enak berkecamuk. Kekhawatiran pada ibuku, karena di salah satu sms, bapakku mengatakan ibu marah besar. Ada satu sms dari sepupuku yang membuatku merasa semakin kesal saja.

What the hell?? Semudah itukah dia menulis kata-kata sejahat itu?? Keinginan untuk memutus persaudaraan…. Benci……. Siapa yang keterlaluan??? Aku baginya… dan dia bagiku juga…. Aku tak habis pikir… ingin aku meneriakinya… Jangan urusi aku terlalu jauh…. Pikirkan masalahmu….. Sebulan ini apa yang terjadi??? Urus itu… huft… membuatku selalu ingin balik ke Solo.. kesanggupannya pada ibuku untuk mengawasiku, terlalu berat ya??? Membebanimu??? Damn!!!! Aku ingin memakiiiiiiiiiiiiiiii………………………………….… aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…….

Menimbang-nimbang…. Kubalas sms dengan kalimat yang cukup singkat.. malam ini, aku berhenti.. hari itu mbak Retno digantikan Mbak Yani. Katanya, lumayan kalau aku bisa kuat di sana… ada banyak ilmu…. Yah, mau bagaimana lagi??
Pak Dimas menanyaiku, mengenai apa yang akan kubicarakan kemarin… untunglah Mas Evan keceplosan setelah aku menceritakan apa yang kualami. Malahan, dengan nada bercanda dia mau ngomongin itu ke Pak Dimas kalau aku tak berani ngomong…. Pada Pak Dimas, Mas Evan ngomong kalau ada yang mau kusampaikan.
Ini mungkin jalan yang harus kutempuh. Aku akhirnya pamit… dengan minta maaf dan sedikit menyesal…. Malam itu, terselesaikan tiga hari berhargaku. Setelah itu, aku terus berpikir ulang, mungkin memang akan sangat berat. Terlebih lagi tanpa restu orang tua. Namun, aku terus memikirkan bagaimana aku bisa menjalankan rencana ngekos. Kelihatannya peluang tipis.

Hari kamis. aku banyak ngobrol dengan budhe. Ini harus dibicarkan. Meski yang kuinginkan membicarakannya dengan ibu. Terus berpikir ulang, apa ngekos adalah salah satu bentuk keegoisanku saja?? Memikirkan ketidaknyamananku akhir-akhir ini, bapak ibuku… semuanya… memang sangat berat…

Kamis itu pula kualami sesuatu yang cukup tidak menyenangkan. Ganti ban motor yang belakang dengan yang second. Rem belakang menjadi sangat tidak enak digunakan.
Uangku yang terkumpul menyusut dengan cepatnya… ya, nasib….
Pagi tadi, hari cukup padat. Ke pusat ama Selly, perpus, rektorat, FIP, limuny, survei swimming pool, kampus tiga. Pikiranku masih agak blank. Tidak bisa diungkap jelas apa yang kurasakan. Kekhawatiran, ketakutan, entah. Aku berusaha menyerap sebanyak mungkin yang bisa kuserap.

Pulang, aku mendapat telpon bapakku. Aku minta maaf untuk kekhawatiran yang kusebabkan. Parahnya, ibuku memintaku minta maaf pada sepupuku juga. Heyyy??? Apa??? Belum untuk saat itu, aku belum bisa. Mungkin besok, menjelang pulang.

Besok aku diskusi pendidikan dan LKMM di pusat. Apa pula itu LKMM? Entah. Akhirnya aku hampir selesai menuliskan semua ini. Ah, andai aku bisa langsung nulis di laptop pasti lebih efisien. Yah, bagaimana lagi… aku pasti membuat listrik mati lokal kalau tancapkan laptop. Ini bukan rumah sendiri…. Beda kali kalau aku ngekos… ini salah satu dari banyak alas anku pengen banget ngekos.
Ah, trakhir, nyoba buat list ah…

Alasan pengen ngekos :
1. Kurang SDL
2. Bener kata ibuku, hidupku jadi kurang teratur karena kondisi warga
3. Ga betah karena **********************
4. Pada ******, termasuk aku
5. ***********
6. Sulit kalau mau lakukan rutinitas, misal setrika, dll
7. Merasa di********…
8. Aku males ngapa-ngapain disini
9. Pada g mau ngalah
10. Pada ngambekan
11. Berantakan
12. G***************mereka
13. Bukuku g terawat
14. Kurang privat
15. *************
16. *****************
17. Kamar mandi
18. Mereka terbebani
19. Pura-pura bisa ngurus aku
20. Bosen
21. Pengen suasana baru
22. Ga ********
23. Pengen mandiri
24. G *************
25. Terabaikan oleh diri sendiri
Kendala
1. Izin ortu
2. ******
3. Apa betah? Kan aku g betahan
4. Perlengkapan
5. Aku orang yang labil
6. Kepercayaan ortu
7. Nyari yang pas
8. Pendapat mereka???
Aku jadi males
1. Apatis
2. Sering habiskan waktu di kampus
3. G peduli
4. G pernah ****** lagi
5. G ngajarin pr
6. Seenak sendiri
7. Sesukaku
8. G niat hidup
9. Males kalau beraktifitas
Harapan :
1. Ortu ngerti
2. Pengalaman baru
3. Lebih terbuka
4. Tabungan
5. Kerja sambilan
6. Ikhlas

Ah, cukup ini catatan hari jumat…. Tidur.
Versi lengkap hanya bisa diakses dengan ketentuan tertentu….. ^^

Ditulis hari jumat, 18 maret, bersamaan dengan ultah teman baikku, tri utami…
Diketik di Solo, 20 Maret 2011. 12.24
Akiyuki Kyoshi (+_+)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar