Manusia, mudah sekali untuk disalahpahami dan menyalahpahami sesuatu. Begitu pula dengan aku, maunya jadi manusia yang bisa untuk mengerti, bisa sampai pada tingkat pemahaman yang tinggi. Aku memang bukan seorang sufi, hanya seseorang yang suka film (melenceng nih pembicaraannya). Pengennya memikirkan sesuatu dengan benar, sayangnya jika aku sudah merasa buntu, hal itu tidak kupikirkan lagi. Meski tetap menyita bagian dalam otakku. Toh, kubiarkan saja. I can do nothing for that. Titik.
Mengenai masalah yang jadi ranah (yang mereka anggap) privasi, apalagi. Aku sangat enggan mencampurinya. Paling jika sudah beberapa kali berupaya dan tak ada hasil, aku sudahi usahaku. Padahal, jika itu untuk kebaikan mereka, aku harus mau. Aku harus mengerahkan usaha maksimalku. Bukankah kita memiliki kewajiban untuk saling menolong dan mengingatkan untuk jadi baik?
Dalih, selalu saja ada hal berwujud itu. Aku mungkin saja tidak mengetahui apa yang baik bagi mereka. Apa yang kuanggap baik, belum tentu mereka anggap baik. Ah, dunia ini membingungkanku. Dahulu aku percaya, bahwa kebaikan itu sesuatu yang mutlak di mana saja. Sekarang, setelah sejauh hitungan hidup yang kubilang hari demi hari, hingga tahun demi tahun, apa yang jadi keyakinanku itu luntur. Menjadi keraguan dan tanya bahkan untuk diriku sendiri. Apa yang kurasa baik memangkah itu baik?
Jadi memang benar apa kata orang, semakin tua, semakin banyak yang dipikirkan. Gawatnya, jika aku seperti ini terus, akan jadi seperti apa aku? Setidaknya, aku harus tegas pada diriku sendiri. Meski banyak hal di luar yang masih kusalahpahami, membuat diriku bertindak kurang tepat, jangan sampai aku kehilangan langkah dan berhenti.
Terlalu berhati-hati pula rupanya aku. Begitulah... Aku terlalu penakut untuk terlibat terlalu jauh. Hingga bagi orang lain, aku mungkin hanya sampai pada bagian luar dari diri mereka. Mungkin juga bagi diriku sendiri, aku masih belum mengizinkan mereka semua sampai pada keterlibatan yang jauh. Ini akan sulit, batasnya sangat tipis dengan kesepian dan rasa takut (takut menyakiti, takut mengecewakan, takut menjadi beban). Masih pada pilihan ini, karena jika makin jauh, akan makin berat pula kadar kesepian dan ketakutan yang akan dirasakan.
Teruntuk keluargaku, yang mengerti diriku, memiliki penilaian bahkan untuk suatu sifat yang belum kusadari. Aku ingin menyampaikan permintaan maaf. Terutama kepada ibu dan ayahku. Untuk semua kekecewaan dan kesedihan yang kusebabkan. Maaf, untuk semua kesalahpahamanku. Terima kasih sebesar-besarnya untuk semua yang telah kuterima. Ingin aku membalas meskipun balasanku tak kan pernah sebanding.
Untuk semua yang pernah kusalahpahami dan kulukai, maaf. Sebenarnya, karena masih banyak kekurangan yang ada pada diriku, sehingga aku masih sering salah paham. Kuharap aku bisa lebih mengerti, meski selalu saja akan ada yang belum dapat kumengerti.
Terakhir dari tulisanku, potongan-potongan lirik yang membuatku memikirkan sesuatu saat aku mendengarnya, setelah sekian lama tak pernah dengar... (ada yang tahu what have i thought about?)
how long
before i get in
before it starts
before i begin
where do
where do i go?
how long
do i have to climb
up on my side
of the small thing of life?
(coldplay, speed of sound, 2005)
Yogyakarta, Jumat, 23 Desember 2011
01.08 WIB
Jumat, 23 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011
Bagaimana Jika Judulnya What If
Kuliah.. tiap kali kuliah ini, mikirin tugas yang itu, tiap di kost, ga pernah mikirin tugas kuliah. Kuliahku ga efektif. Bagaimana jika kuliah ga usah ada tugas? Aku bingung, kenapa pikiranku maunya ke mana-mana. Besok pengennya jadi guru SD. Sekarang mikirnya pengen buat makanan probiotik. Ga tau caranya....
Kamis, 21 April 2011
di hari kartini
aku bukan orang yang suka berprasangka. Aku adalah orang yang amat cuek dan apatis. cenderung tak pikirkan apapun. makanya aku sering g mood dan bosan kalau tak ada kegiatan apa-apa. kalau sedang mengalami suatu hal yang menekanku.... barulah aku akan bereaksi.
Akhir-akhir ini, aku sama sekali tak responsif. Sama sekali tak ada perubahan dari yang lalu..... aku ingin menjadi lebih baik.... berawal dari diri ini yang sekarang. Apa adanya................. yang punya amat banyak kekurangan. yang punya lebih banyak lagi yang harus ditingkatkan.
Akulah satu sosok itu.... salah satu dari kaum bernama wanita. Dengan kriteria yang masih jauh dari sesosok wanita..
Kaum yang punya banyak bilik rumit di dalam hatinya. Namun, juga bisa mengurai kerumitan yang ada dengan kelembutan yang pasti dia punya. Yang menyimpan kekuatan besar di rengkuhan lembut kedua tangan halusnya. Akulah wanita.......... sadar atau tidak. Itulah kodratku.
mereka bilang wanita itu cengeng...
mereka bilang wanita itu ribet...
mereka bilang wanita itu manja...
wanita juga bisa jadi sosok yang tegar...
wanita bisa jadi sosok yang solutif..
wanita bisa jadi sosok yang mandiri....
itu semua ada pada ibuku...
aku ingin jadi seperti itu...
ibu yang hebat...
wanita yang dengan rela dan ikhlash menghabiskan seluruh hidupnya mewarnai hidup orang-orang yang dicintainya....
pikiranku yang rumit sekarang ini, semoga bisa membelajarkan diri ini untuk kelak menjadi wanita yang sebenar-benarnya... menjalankan kewajiban, dan menjadi utusan yang patuh pada Penciptanya....
berharap menjadi seperti bidadari surga...
setidaknya, menjadi bidadari penjaga bagi keluargaku kelak...
bisakah?? Insya Alloh....
21 April 2011
dengan hati bertanya...
Akhir-akhir ini, aku sama sekali tak responsif. Sama sekali tak ada perubahan dari yang lalu..... aku ingin menjadi lebih baik.... berawal dari diri ini yang sekarang. Apa adanya................. yang punya amat banyak kekurangan. yang punya lebih banyak lagi yang harus ditingkatkan.
Akulah satu sosok itu.... salah satu dari kaum bernama wanita. Dengan kriteria yang masih jauh dari sesosok wanita..
Kaum yang punya banyak bilik rumit di dalam hatinya. Namun, juga bisa mengurai kerumitan yang ada dengan kelembutan yang pasti dia punya. Yang menyimpan kekuatan besar di rengkuhan lembut kedua tangan halusnya. Akulah wanita.......... sadar atau tidak. Itulah kodratku.
mereka bilang wanita itu cengeng...
mereka bilang wanita itu ribet...
mereka bilang wanita itu manja...
wanita juga bisa jadi sosok yang tegar...
wanita bisa jadi sosok yang solutif..
wanita bisa jadi sosok yang mandiri....
itu semua ada pada ibuku...
aku ingin jadi seperti itu...
ibu yang hebat...
wanita yang dengan rela dan ikhlash menghabiskan seluruh hidupnya mewarnai hidup orang-orang yang dicintainya....
pikiranku yang rumit sekarang ini, semoga bisa membelajarkan diri ini untuk kelak menjadi wanita yang sebenar-benarnya... menjalankan kewajiban, dan menjadi utusan yang patuh pada Penciptanya....
berharap menjadi seperti bidadari surga...
setidaknya, menjadi bidadari penjaga bagi keluargaku kelak...
bisakah?? Insya Alloh....
21 April 2011
dengan hati bertanya...
Senin, 18 April 2011
aku bosan .... (judul yang menbosankan)
entah kenapa, mood kok susahnya diatur,.... bosan,,,, tadi, kuterima telepon dari bapakku... Kuliah yang semangat ya,,,,, hempf,,,, nggih... hanya begitulah jawabanku... Seperti ini ternyata kuliah itu? atau aku yang kurang bisa menangkap ilmu yang bertebaran di sini ya....??? Hanya karena sebuah perasaan... yang kuharap hanya sementara dan semoga tak bertahan lama, yaitu..... : BOSAN.
Senin, 28 Maret 2011
yah, menulis saja
Sebelum Aku Tidur
Belakangan ini sering sekali hujan menjadi pelengkap setting hari-hariku. Bersinergi dengan apa yang sedang kurasakan. Pun malam ini. Menambah keenggananku untuk balik ke sana lagi. Entah sejak kapan, aku enggan. Bukan hanya karena nyamannya rumah yang begitu kurasakan ketika aku pulang. Bukan hanya karena itu. Alasan itu tak akan kutuliskan di sini. Terlalu bosan dan capek membicarakan atau menuliskannya.
Bersinergi. Kata yang mungkin masih asing terdengar bagiku ketika beberapa tahun yang lalu. Ketika aku sadar, sekarang ini aku berada di bangku kuliah. Amat berharga kesempatan yang aku punya. Tak semua orang bisa merasainya.
Akan aku tuliskan di sini mengenai kebiasaan untuk beralasan. Setelah tadi melihat salah satu acara di televisi. Acara yang cukup menginspirasi. Acara yang diisi oleh motivator dengan suara yang dalam dan penuh empati (memang begini menurutku). Aku mungkin selama ini sudah menjadi master of alasan yang sangat handal. Beralasan demi pembenaran melakukan suatu penundaan.
Kali ini juga. Aku menunda tidur malamku dengan alasan akan menulis. Aku suka menulis di tengah malam. Meski besok aku akan kembali ke sana, aku tak peduli. Apa ini baik? Menunda tidur malam? Sama sekali tidak. Besok aku akan berkendara selama dua jam. Saat-saat seperti itu, sering sekali aku merasa mengantuk.
Namun, kau tahu? Kita semua sering mengabaikan semua demi apa yang kita sukai. Asalkan kita bisa melakukannya, kita pasti akan rela. Aku rela meskipun aku mengantuk. Aku berani mengambi resiko untuk apa yang aku hadapi besok. Karena, menulis adalah salah satu obat bagiku saat ini.
Setelah seharian tadi, hujan. Setelah seharian tadi kelegaan belum juga datang. Setelah aku harus dihadapkan dengan keinginan yang tak sesuai dengan kenyataan. Aku bercerita pada kata. Aku ceritakan semuanya.
Hari ini aku berdiplomasi. Setidaknya, aku sedikit lega. Meskipun apa yang kuanggap sebagai solusi belum memenangkan diskusi. Ya, aku belum sepenuhnya menerima. Mungkin aku termasuk orang yang amat perasa. Aku tak ingin membesar-besarkan atau mengecilkannya. Hanya kuharap mereka mau mendengarkan dan mencoba memahami apa yang kurasa.
Hey, tetapi aku akan terus berdoa untuk proses pendewasaan yang kualami kali ini. Bukankah hanya pada-Nya, kita memohon dan meminta? Seperi yang telah disampaikan di acara televisi yang tadi kusaksikan, kita tidak boleh membatasi kuasa Tuhan saat meminta. Jadi, lebih baik meminta kaya dan bahagia. Terlepas dari pendapat orang umumnya, lebih baik hidup miskin tetapi bahagia daripada kaya tetapi tidak bahagia. Aku percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa. Jika Ia menghendaki, apapun akan berjalan sesuai skenario yang dibuat-Nya.
Hari ini tadi, aku juga mengunjungi salah satu temanku. Bersilaturahmi katanya bisa memanjangkan usia dan mendekatkan rezeki, ya? Terlepas dari itu semua, aku memang kangen padanya. Alhamdulillah, aku banyak makan hari ini. Masakan ibuku yang sangat kusuka.
Cukup malam. Aku benar-benar mengantuk sekarang. Besok ada uts biologi. Juga presentasi LPSD. Ehm, ada status teman yang menuliskan bahwa ia sangat ingin jadi guru SD. Aku akan tanamkan itu setiap hari sebelum aku tidur, mulai sekarang. Karena, aku meyakini, ini adalah jalanku. Semoga saja langkahku dipermudah. Amin…. Besok, semoga menjadi hari yang lebih baik. Agenda rapat KMIP juga menungguku besok sore. Keikhlasan… semangat… kontribusi…. Sungguh, aku ingin menjadi bermanfaat.
So… Lo…. 27 maret 2011
11.51pm
Belakangan ini sering sekali hujan menjadi pelengkap setting hari-hariku. Bersinergi dengan apa yang sedang kurasakan. Pun malam ini. Menambah keenggananku untuk balik ke sana lagi. Entah sejak kapan, aku enggan. Bukan hanya karena nyamannya rumah yang begitu kurasakan ketika aku pulang. Bukan hanya karena itu. Alasan itu tak akan kutuliskan di sini. Terlalu bosan dan capek membicarakan atau menuliskannya.
Bersinergi. Kata yang mungkin masih asing terdengar bagiku ketika beberapa tahun yang lalu. Ketika aku sadar, sekarang ini aku berada di bangku kuliah. Amat berharga kesempatan yang aku punya. Tak semua orang bisa merasainya.
Akan aku tuliskan di sini mengenai kebiasaan untuk beralasan. Setelah tadi melihat salah satu acara di televisi. Acara yang cukup menginspirasi. Acara yang diisi oleh motivator dengan suara yang dalam dan penuh empati (memang begini menurutku). Aku mungkin selama ini sudah menjadi master of alasan yang sangat handal. Beralasan demi pembenaran melakukan suatu penundaan.
Kali ini juga. Aku menunda tidur malamku dengan alasan akan menulis. Aku suka menulis di tengah malam. Meski besok aku akan kembali ke sana, aku tak peduli. Apa ini baik? Menunda tidur malam? Sama sekali tidak. Besok aku akan berkendara selama dua jam. Saat-saat seperti itu, sering sekali aku merasa mengantuk.
Namun, kau tahu? Kita semua sering mengabaikan semua demi apa yang kita sukai. Asalkan kita bisa melakukannya, kita pasti akan rela. Aku rela meskipun aku mengantuk. Aku berani mengambi resiko untuk apa yang aku hadapi besok. Karena, menulis adalah salah satu obat bagiku saat ini.
Setelah seharian tadi, hujan. Setelah seharian tadi kelegaan belum juga datang. Setelah aku harus dihadapkan dengan keinginan yang tak sesuai dengan kenyataan. Aku bercerita pada kata. Aku ceritakan semuanya.
Hari ini aku berdiplomasi. Setidaknya, aku sedikit lega. Meskipun apa yang kuanggap sebagai solusi belum memenangkan diskusi. Ya, aku belum sepenuhnya menerima. Mungkin aku termasuk orang yang amat perasa. Aku tak ingin membesar-besarkan atau mengecilkannya. Hanya kuharap mereka mau mendengarkan dan mencoba memahami apa yang kurasa.
Hey, tetapi aku akan terus berdoa untuk proses pendewasaan yang kualami kali ini. Bukankah hanya pada-Nya, kita memohon dan meminta? Seperi yang telah disampaikan di acara televisi yang tadi kusaksikan, kita tidak boleh membatasi kuasa Tuhan saat meminta. Jadi, lebih baik meminta kaya dan bahagia. Terlepas dari pendapat orang umumnya, lebih baik hidup miskin tetapi bahagia daripada kaya tetapi tidak bahagia. Aku percaya bahwa Tuhan Maha Kuasa. Jika Ia menghendaki, apapun akan berjalan sesuai skenario yang dibuat-Nya.
Hari ini tadi, aku juga mengunjungi salah satu temanku. Bersilaturahmi katanya bisa memanjangkan usia dan mendekatkan rezeki, ya? Terlepas dari itu semua, aku memang kangen padanya. Alhamdulillah, aku banyak makan hari ini. Masakan ibuku yang sangat kusuka.
Cukup malam. Aku benar-benar mengantuk sekarang. Besok ada uts biologi. Juga presentasi LPSD. Ehm, ada status teman yang menuliskan bahwa ia sangat ingin jadi guru SD. Aku akan tanamkan itu setiap hari sebelum aku tidur, mulai sekarang. Karena, aku meyakini, ini adalah jalanku. Semoga saja langkahku dipermudah. Amin…. Besok, semoga menjadi hari yang lebih baik. Agenda rapat KMIP juga menungguku besok sore. Keikhlasan… semangat… kontribusi…. Sungguh, aku ingin menjadi bermanfaat.
So… Lo…. 27 maret 2011
11.51pm
Selasa, 22 Maret 2011
Kau Istimewa
Sepi... aku memang sengaja menikmatinya.... Kuliah....sekedar cerita saja...
tadi adalah mata kuliah karya tulis ilmiah. Hem,,,, serba ilmiah ya ??? Sebenarnya aku tak begitu suka. Namun kan harus belajar ya... Skripsi... Cie...baru juga semester dua.
berpikir ke depan... Aku setengah-setengah mendengarkan sambil kirim pesan via kertas ke rekan di bangku samping... nanggung juga sih kalau semua cuma setengah-setengah...
Catatan g gitu rapi... ngobrol juga nanggung. Orang cuma lewat tulisan..
Salah satu tulisanku berisi, aku mungkin menyebarkan aura negatif ke sekitarku... Dengan perasaanku yang sekarang... Ga karuan lah... Untungnya temanku itu ga ketularan auraku...
hari minggu, 20 Maret kemarin, nonton Mario Teguh, The Golden Ways.. Hanya teorinya saja yang kuingat, bahwa kita punya tanggung jawab sosial untuk tampil baik di depan orang. Lewat wajah yang cerah, juga penampilan yang pantas. Bukan sekedar untuk jaga image. Lebih kepada menjaga apa yang dilihat orang. Setidaknya, agar orang yang melihat kita tidak mengatakan "ih, amit-amit jabang bayi..."
Tidak berlaku untukku hari ini. aku memang sedang egois... melanjutkan pernyataan yang kutulis lewat surat kertas (yang ini jelas beda dengan surat elektronik atau email...) But, I Don't Care!!!
ada yang tak terduga... Setelah makan pagi (jam 10.30), aku masih jajan batagor, trus makanan ringan. Hem, menginjak ekor sendiri. Padahal aku udah niat setengah mati untuk hemat... presentasi ditunda... ada yang heran kenapa aku g ngantuk waktu kuliah perspektif global. Padahal, biasanya....(titik-titik)
sholat... Setelah itu kubuka hapeku....
huwa... dari sahabat lamaku... Bisa tidak ya, besok seperti itu... Untuk Nana, terima kasih telah berbagi denganku selama ini. Maaf atas segala salah yang kulakukan. Semoga jalan kita selalu dinaungi perlindungan Allah.. Semoga kita dikuatkan dalam menjalani semuanya... Semangat selalu.. Aku menyayangimu... aku sangat kagum padamu... aku juga belajar banyak darimu... Terima kasih...
Hem, yang begitu kuingat adalah mushaf darimu, sebagai hadiah ultahku... Hehehe, untuk siapa saja yang kelak jadi suamiku... (^^)
Kau kalah cepat dibandingkan dengan sahabatku yang luar biasa ini...
Salam kangen, untukmu, sahabat...
tadi adalah mata kuliah karya tulis ilmiah. Hem,,,, serba ilmiah ya ??? Sebenarnya aku tak begitu suka. Namun kan harus belajar ya... Skripsi... Cie...baru juga semester dua.
berpikir ke depan... Aku setengah-setengah mendengarkan sambil kirim pesan via kertas ke rekan di bangku samping... nanggung juga sih kalau semua cuma setengah-setengah...
Catatan g gitu rapi... ngobrol juga nanggung. Orang cuma lewat tulisan..
Salah satu tulisanku berisi, aku mungkin menyebarkan aura negatif ke sekitarku... Dengan perasaanku yang sekarang... Ga karuan lah... Untungnya temanku itu ga ketularan auraku...
hari minggu, 20 Maret kemarin, nonton Mario Teguh, The Golden Ways.. Hanya teorinya saja yang kuingat, bahwa kita punya tanggung jawab sosial untuk tampil baik di depan orang. Lewat wajah yang cerah, juga penampilan yang pantas. Bukan sekedar untuk jaga image. Lebih kepada menjaga apa yang dilihat orang. Setidaknya, agar orang yang melihat kita tidak mengatakan "ih, amit-amit jabang bayi..."
Tidak berlaku untukku hari ini. aku memang sedang egois... melanjutkan pernyataan yang kutulis lewat surat kertas (yang ini jelas beda dengan surat elektronik atau email...) But, I Don't Care!!!
ada yang tak terduga... Setelah makan pagi (jam 10.30), aku masih jajan batagor, trus makanan ringan. Hem, menginjak ekor sendiri. Padahal aku udah niat setengah mati untuk hemat... presentasi ditunda... ada yang heran kenapa aku g ngantuk waktu kuliah perspektif global. Padahal, biasanya....(titik-titik)
sholat... Setelah itu kubuka hapeku....
di sekitar Arsy-Nya ada menara-menara dari cahaya,di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah merekapun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan syuhada... Hingga para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka. Ketika sahabat bertanya siapa mereka, Rasul menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah (H.R. Tirmidzi)
huwa... dari sahabat lamaku... Bisa tidak ya, besok seperti itu... Untuk Nana, terima kasih telah berbagi denganku selama ini. Maaf atas segala salah yang kulakukan. Semoga jalan kita selalu dinaungi perlindungan Allah.. Semoga kita dikuatkan dalam menjalani semuanya... Semangat selalu.. Aku menyayangimu... aku sangat kagum padamu... aku juga belajar banyak darimu... Terima kasih...
Hem, yang begitu kuingat adalah mushaf darimu, sebagai hadiah ultahku... Hehehe, untuk siapa saja yang kelak jadi suamiku... (^^)
Kau kalah cepat dibandingkan dengan sahabatku yang luar biasa ini...
Salam kangen, untukmu, sahabat...
apa itu 'mati'?
Kematian..
Seperti apakah itu?
Apa ia yang datang?
Ataukah ia membawaku pergi?
Ia yang ada…
Atau, membuatku jadi tak ada?
Ia yang membuatku hilang….
Atau membuatku kehilangan…
Apakah kematian itu sakit?
Atau menyudahi rasa sakit?
Aku yang menginginkannya
Atau dia yang menginginkanku?
Dia yang seperti dedaunan gugur
Atau yang seperti sebatang pohon meranggas?
Dia yang datang diam
Atau ku yang terlampau acuh?
Yang datang dalam diam
Yang diam-diam datang….
Yang gugur, yang menggugurkan…
Yang diinginkan dan menginginkan….
Yang penuh rasa sakit….
Hilang dan kehilangan…
Ada dan tak ada…
Datang dan pergi….
Seperti apakah itu?
Apa ia yang datang?
Ataukah ia membawaku pergi?
Ia yang ada…
Atau, membuatku jadi tak ada?
Ia yang membuatku hilang….
Atau membuatku kehilangan…
Apakah kematian itu sakit?
Atau menyudahi rasa sakit?
Aku yang menginginkannya
Atau dia yang menginginkanku?
Dia yang seperti dedaunan gugur
Atau yang seperti sebatang pohon meranggas?
Dia yang datang diam
Atau ku yang terlampau acuh?
Yang datang dalam diam
Yang diam-diam datang….
Yang gugur, yang menggugurkan…
Yang diinginkan dan menginginkan….
Yang penuh rasa sakit….
Hilang dan kehilangan…
Ada dan tak ada…
Datang dan pergi….
Mupeng Ngekos, Mak….. T.T
Kuakui aku memang bukanlah orang yang stabil. Apa yang kurasakan akhir-akhir ini terasa sangat padat. Rasanya, seperti ada yang ingin meledak, ingin berteriak, apa saja, yang bisa membuat lega. Sebelumnya, akan kutulis apa maksud catatan ini. Bukan semata-mata untuk dibaca, ada hal lain lagi yang lebih. Ingin mengenang apa yang kurasakan, dalam bentuk yang lebih jelas daripada hanya jikalau hal ini melayang-layang bebas di otakku saja. Ingin mengurai semuanya menjadi lebih sederhana dari yang selama ini ruwet berada di dalam hatiku. Ingin mengenal diriku lebih dalam lagi lewat tulisan yang kubuat ini.
Sudah lama tak menulis, benar-benar lama….. Malam ini (Jumat malam, 18 Maret 2011), sepulang dari kampus, setelah maghrib, mandi, makan dan sholat isya. Kubuka laptopku. Ah, ngerjain tugas. Namun, pet…………. Laptop mati dan niatan ngerjain tugas terhenti. Pengen nulis lewat FB selluler, tapi karena baru seruwet ini, kuurungkan. Akan menjadi sangat panjang dan tak jelas. Meraih buku, lalu menulis….
Niatan itu muncul di pikiranku sudah sejak beberapa bulan yang lalu. Apa yang kurang sudah disiapkan. Hari jumat, 4 Maret sudah kuantar sebelum aku pulang ke Solo.
Hari itulah, hujan rintik menemani perjalananku. Sebelum kaca helm kututup rapat, rasanya mukaku seperti tertusuk-tusuk duri. Menyongsong tetes air hujan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ya, untuk saat itulah kesekian kalinya aku jatuh. Pertigaan dekat rumah, 5 menit sebelum sampai ke rumahku.
Motorku, bisa dibilang bertambah lagi lukanya. Pijakan kaki kiri (kalau g salah namanya four step ya??) yang dulu bengkok saat aku jatuh bersama ibuku, seketika itu patah. Otomatis harus di las. Bukan kali itu saja aku jatuh. Beberapa insiden yang pernah terjadi : jatuh waktu boncengin Irul, waktu boncengin ibu, terpeleset di pertigaan sepulang dari klinik, jatuh waktu boncengin teman sepulang dari kampus pusat, tertabrak dari belakang hingga slebor motorku patah. Yang paling kusesalkan adalah ibuku dulu sampai terbaring 3 hari karena pening. Lalu, layar hape temanku yang retak gara-gara ketidakhati-hatianku.
Aku jatuh terjerembab. Bibirku, lengan dan kaki kanan terbentur ke aspal. Aku benar-benar merasa nyaris untuk saat itu. Lebam-lebam, akhirnya… hal pertama yang kulakukan saat sampai di rumah adalah mengecek keadaan laptopku, yang untungnya, selamat… laptop yang baru diinstal ulang karena error itu, bisa menyala…. Fiuh….
Shock therapy berlanjut… 7 maret, sehari setelah up grading KMIP, ada telepon. Panggilan wawancara. Interview singkat tanggal 9 Maret itu menghadapkanku pada pilihan sulit. Jujur saja, aku sangat ingin membiayai biaya kost sendiri, tidak menumpang di rumah saudara terus menerus. Dengan begitu, aku harus menjalani kerja keras pukul 18.00-23.00 ataupun lebih. Lewat telepon kukabarkan pada orang tua. Setelah test 12 maret, kala itu Sabtu, ditetapkan bahwa hari senin, 14 Maret adalah hari pertamaku training.
Lalu, minggu adalah hari yang menyenangkan. Up grading HIMA ke Pantai Baru. Teringat waktu rihlah di Pantai Gua Cemara. Bedanya, minggu itu aku tak basah kuyup. Tak main air berlebihan, lagipula gelombang laut sangat besar mengingat pasca tsunami Jepang, 11 maret. Senang berada di tengah orang-orang hebat dengan pikiran mereka yang idealis. Sementara aku, cuek, apatis, sama sekali ga kritis. Hem, apa aku berada di kapal yang salah ya?? Sampai kali ini belum berhasil menemukan jawabnya….
Hari pertama training adalah pengalaman baruku selanjutnya. Hanya ada beberapa tugas awal. Mereka semua sangat baik. Mbak nur, Mbak Retno, Mas Evan, Pak Dimas. Canggung, tapi sedikit lega pula, penerimaan yang cukup ramah. Pulang melihat bulan purnama yang indah. Tak ada firasat apapun…. Baik maupun buruk.
Selasa itu ibuku berubah pikiran. Semangat yang membulat menjadi carut marut lagi. Betapa sulitnya, aku berangkat lagi. Kuceritakan mengenai izin ibuku ke sepupuku.
Aku masih memegang erat motivasiku. Aku akan menjalaninya untuk hidup dan rencanaku selanjutnya. Aku tak tahu, setelah sesiang itu bercerita pada beberapa orang teman, di tempat training aku menceritakan hal itu ke mbak dan mas yang ada di sana. Berharap berkurang ganjalan di hatiku. Namun, tetap sama rasanya. Dilema.
Rabu, aku tahu dari bapakku. Keputusan ibu ternyata mendapat intervensi dari sepupuku. Padahal aku percaya padanya. Tanpa memberiitahuku terlebih dahulu, dia malah telepon ibu. Memang berat bagi seorang ibu untuk memberi izin semacam ini. Tanpa intervensi siapapun, kecil untuk mendapat dukungan penuh. Namun, aku sangat kesal pada sepupuku atas apa yang dilakukannya itu.
Keinginan kuatku untuk ngekos sendiri seperti terpatahkan sia-sia. Kesempatan satu-satunya yang sudah kujalani seperti terhalang. Seperti hilang akal. Frustasi…. Hempf,,,,,, aku bingung bagaimana cara untuk bisa mewujudkan keinginanku. Aku punya teman-teman yang baik yang bisa kujadikan tempat berbagi. Perasaan tak enak yang beberapa bulan ini selalu mendominasi…
Kejutan terjadi. Pengumuman beasiswa Supersemar. Oh, god… inikah jalan lain itu??
Masih dengan kesal pada sepupuku. Aku ke tempat training tanpa izin terlebih dahulu. Langsung dari kampus. Rasa kesalku menambah kuat keinginan untuk ngekos… andai saja ada yang persis tahu bagaimana rasanya. Pendapat dari teman-temanku secara objektif mengemukakan apa yang kutempuh lebih banyak negatifnya dan cukup riskan. Aku sendiri, setengah hati kalau harus meninggalkannya.
Aku memang seperti ini…. Hampir tengah malam kubuka hape, beberapa pesan. Rasa tak enak berkecamuk. Kekhawatiran pada ibuku, karena di salah satu sms, bapakku mengatakan ibu marah besar. Ada satu sms dari sepupuku yang membuatku merasa semakin kesal saja.
What the hell?? Semudah itukah dia menulis kata-kata sejahat itu?? Keinginan untuk memutus persaudaraan…. Benci……. Siapa yang keterlaluan??? Aku baginya… dan dia bagiku juga…. Aku tak habis pikir… ingin aku meneriakinya… Jangan urusi aku terlalu jauh…. Pikirkan masalahmu….. Sebulan ini apa yang terjadi??? Urus itu… huft… membuatku selalu ingin balik ke Solo.. kesanggupannya pada ibuku untuk mengawasiku, terlalu berat ya??? Membebanimu??? Damn!!!! Aku ingin memakiiiiiiiiiiiiiiii………………………………….… aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…….
Menimbang-nimbang…. Kubalas sms dengan kalimat yang cukup singkat.. malam ini, aku berhenti.. hari itu mbak Retno digantikan Mbak Yani. Katanya, lumayan kalau aku bisa kuat di sana… ada banyak ilmu…. Yah, mau bagaimana lagi??
Pak Dimas menanyaiku, mengenai apa yang akan kubicarakan kemarin… untunglah Mas Evan keceplosan setelah aku menceritakan apa yang kualami. Malahan, dengan nada bercanda dia mau ngomongin itu ke Pak Dimas kalau aku tak berani ngomong…. Pada Pak Dimas, Mas Evan ngomong kalau ada yang mau kusampaikan.
Ini mungkin jalan yang harus kutempuh. Aku akhirnya pamit… dengan minta maaf dan sedikit menyesal…. Malam itu, terselesaikan tiga hari berhargaku. Setelah itu, aku terus berpikir ulang, mungkin memang akan sangat berat. Terlebih lagi tanpa restu orang tua. Namun, aku terus memikirkan bagaimana aku bisa menjalankan rencana ngekos. Kelihatannya peluang tipis.
Hari kamis. aku banyak ngobrol dengan budhe. Ini harus dibicarkan. Meski yang kuinginkan membicarakannya dengan ibu. Terus berpikir ulang, apa ngekos adalah salah satu bentuk keegoisanku saja?? Memikirkan ketidaknyamananku akhir-akhir ini, bapak ibuku… semuanya… memang sangat berat…
Kamis itu pula kualami sesuatu yang cukup tidak menyenangkan. Ganti ban motor yang belakang dengan yang second. Rem belakang menjadi sangat tidak enak digunakan.
Uangku yang terkumpul menyusut dengan cepatnya… ya, nasib….
Pagi tadi, hari cukup padat. Ke pusat ama Selly, perpus, rektorat, FIP, limuny, survei swimming pool, kampus tiga. Pikiranku masih agak blank. Tidak bisa diungkap jelas apa yang kurasakan. Kekhawatiran, ketakutan, entah. Aku berusaha menyerap sebanyak mungkin yang bisa kuserap.
Pulang, aku mendapat telpon bapakku. Aku minta maaf untuk kekhawatiran yang kusebabkan. Parahnya, ibuku memintaku minta maaf pada sepupuku juga. Heyyy??? Apa??? Belum untuk saat itu, aku belum bisa. Mungkin besok, menjelang pulang.
Besok aku diskusi pendidikan dan LKMM di pusat. Apa pula itu LKMM? Entah. Akhirnya aku hampir selesai menuliskan semua ini. Ah, andai aku bisa langsung nulis di laptop pasti lebih efisien. Yah, bagaimana lagi… aku pasti membuat listrik mati lokal kalau tancapkan laptop. Ini bukan rumah sendiri…. Beda kali kalau aku ngekos… ini salah satu dari banyak alas anku pengen banget ngekos.
Ah, trakhir, nyoba buat list ah…
Alasan pengen ngekos :
1. Kurang SDL
2. Bener kata ibuku, hidupku jadi kurang teratur karena kondisi warga
3. Ga betah karena **********************
4. Pada ******, termasuk aku
5. ***********
6. Sulit kalau mau lakukan rutinitas, misal setrika, dll
7. Merasa di********…
8. Aku males ngapa-ngapain disini
9. Pada g mau ngalah
10. Pada ngambekan
11. Berantakan
12. G***************mereka
13. Bukuku g terawat
14. Kurang privat
15. *************
16. *****************
17. Kamar mandi
18. Mereka terbebani
19. Pura-pura bisa ngurus aku
20. Bosen
21. Pengen suasana baru
22. Ga ********
23. Pengen mandiri
24. G *************
25. Terabaikan oleh diri sendiri
Kendala
1. Izin ortu
2. ******
3. Apa betah? Kan aku g betahan
4. Perlengkapan
5. Aku orang yang labil
6. Kepercayaan ortu
7. Nyari yang pas
8. Pendapat mereka???
Aku jadi males
1. Apatis
2. Sering habiskan waktu di kampus
3. G peduli
4. G pernah ****** lagi
5. G ngajarin pr
6. Seenak sendiri
7. Sesukaku
8. G niat hidup
9. Males kalau beraktifitas
Harapan :
1. Ortu ngerti
2. Pengalaman baru
3. Lebih terbuka
4. Tabungan
5. Kerja sambilan
6. Ikhlas
Ah, cukup ini catatan hari jumat…. Tidur.
Versi lengkap hanya bisa diakses dengan ketentuan tertentu….. ^^
Ditulis hari jumat, 18 maret, bersamaan dengan ultah teman baikku, tri utami…
Diketik di Solo, 20 Maret 2011. 12.24
Akiyuki Kyoshi (+_+)
Sudah lama tak menulis, benar-benar lama….. Malam ini (Jumat malam, 18 Maret 2011), sepulang dari kampus, setelah maghrib, mandi, makan dan sholat isya. Kubuka laptopku. Ah, ngerjain tugas. Namun, pet…………. Laptop mati dan niatan ngerjain tugas terhenti. Pengen nulis lewat FB selluler, tapi karena baru seruwet ini, kuurungkan. Akan menjadi sangat panjang dan tak jelas. Meraih buku, lalu menulis….
Niatan itu muncul di pikiranku sudah sejak beberapa bulan yang lalu. Apa yang kurang sudah disiapkan. Hari jumat, 4 Maret sudah kuantar sebelum aku pulang ke Solo.
Hari itulah, hujan rintik menemani perjalananku. Sebelum kaca helm kututup rapat, rasanya mukaku seperti tertusuk-tusuk duri. Menyongsong tetes air hujan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ya, untuk saat itulah kesekian kalinya aku jatuh. Pertigaan dekat rumah, 5 menit sebelum sampai ke rumahku.
Motorku, bisa dibilang bertambah lagi lukanya. Pijakan kaki kiri (kalau g salah namanya four step ya??) yang dulu bengkok saat aku jatuh bersama ibuku, seketika itu patah. Otomatis harus di las. Bukan kali itu saja aku jatuh. Beberapa insiden yang pernah terjadi : jatuh waktu boncengin Irul, waktu boncengin ibu, terpeleset di pertigaan sepulang dari klinik, jatuh waktu boncengin teman sepulang dari kampus pusat, tertabrak dari belakang hingga slebor motorku patah. Yang paling kusesalkan adalah ibuku dulu sampai terbaring 3 hari karena pening. Lalu, layar hape temanku yang retak gara-gara ketidakhati-hatianku.
Aku jatuh terjerembab. Bibirku, lengan dan kaki kanan terbentur ke aspal. Aku benar-benar merasa nyaris untuk saat itu. Lebam-lebam, akhirnya… hal pertama yang kulakukan saat sampai di rumah adalah mengecek keadaan laptopku, yang untungnya, selamat… laptop yang baru diinstal ulang karena error itu, bisa menyala…. Fiuh….
Shock therapy berlanjut… 7 maret, sehari setelah up grading KMIP, ada telepon. Panggilan wawancara. Interview singkat tanggal 9 Maret itu menghadapkanku pada pilihan sulit. Jujur saja, aku sangat ingin membiayai biaya kost sendiri, tidak menumpang di rumah saudara terus menerus. Dengan begitu, aku harus menjalani kerja keras pukul 18.00-23.00 ataupun lebih. Lewat telepon kukabarkan pada orang tua. Setelah test 12 maret, kala itu Sabtu, ditetapkan bahwa hari senin, 14 Maret adalah hari pertamaku training.
Lalu, minggu adalah hari yang menyenangkan. Up grading HIMA ke Pantai Baru. Teringat waktu rihlah di Pantai Gua Cemara. Bedanya, minggu itu aku tak basah kuyup. Tak main air berlebihan, lagipula gelombang laut sangat besar mengingat pasca tsunami Jepang, 11 maret. Senang berada di tengah orang-orang hebat dengan pikiran mereka yang idealis. Sementara aku, cuek, apatis, sama sekali ga kritis. Hem, apa aku berada di kapal yang salah ya?? Sampai kali ini belum berhasil menemukan jawabnya….
Hari pertama training adalah pengalaman baruku selanjutnya. Hanya ada beberapa tugas awal. Mereka semua sangat baik. Mbak nur, Mbak Retno, Mas Evan, Pak Dimas. Canggung, tapi sedikit lega pula, penerimaan yang cukup ramah. Pulang melihat bulan purnama yang indah. Tak ada firasat apapun…. Baik maupun buruk.
Selasa itu ibuku berubah pikiran. Semangat yang membulat menjadi carut marut lagi. Betapa sulitnya, aku berangkat lagi. Kuceritakan mengenai izin ibuku ke sepupuku.
Aku masih memegang erat motivasiku. Aku akan menjalaninya untuk hidup dan rencanaku selanjutnya. Aku tak tahu, setelah sesiang itu bercerita pada beberapa orang teman, di tempat training aku menceritakan hal itu ke mbak dan mas yang ada di sana. Berharap berkurang ganjalan di hatiku. Namun, tetap sama rasanya. Dilema.
Rabu, aku tahu dari bapakku. Keputusan ibu ternyata mendapat intervensi dari sepupuku. Padahal aku percaya padanya. Tanpa memberiitahuku terlebih dahulu, dia malah telepon ibu. Memang berat bagi seorang ibu untuk memberi izin semacam ini. Tanpa intervensi siapapun, kecil untuk mendapat dukungan penuh. Namun, aku sangat kesal pada sepupuku atas apa yang dilakukannya itu.
Keinginan kuatku untuk ngekos sendiri seperti terpatahkan sia-sia. Kesempatan satu-satunya yang sudah kujalani seperti terhalang. Seperti hilang akal. Frustasi…. Hempf,,,,,, aku bingung bagaimana cara untuk bisa mewujudkan keinginanku. Aku punya teman-teman yang baik yang bisa kujadikan tempat berbagi. Perasaan tak enak yang beberapa bulan ini selalu mendominasi…
Kejutan terjadi. Pengumuman beasiswa Supersemar. Oh, god… inikah jalan lain itu??
Masih dengan kesal pada sepupuku. Aku ke tempat training tanpa izin terlebih dahulu. Langsung dari kampus. Rasa kesalku menambah kuat keinginan untuk ngekos… andai saja ada yang persis tahu bagaimana rasanya. Pendapat dari teman-temanku secara objektif mengemukakan apa yang kutempuh lebih banyak negatifnya dan cukup riskan. Aku sendiri, setengah hati kalau harus meninggalkannya.
Aku memang seperti ini…. Hampir tengah malam kubuka hape, beberapa pesan. Rasa tak enak berkecamuk. Kekhawatiran pada ibuku, karena di salah satu sms, bapakku mengatakan ibu marah besar. Ada satu sms dari sepupuku yang membuatku merasa semakin kesal saja.
What the hell?? Semudah itukah dia menulis kata-kata sejahat itu?? Keinginan untuk memutus persaudaraan…. Benci……. Siapa yang keterlaluan??? Aku baginya… dan dia bagiku juga…. Aku tak habis pikir… ingin aku meneriakinya… Jangan urusi aku terlalu jauh…. Pikirkan masalahmu….. Sebulan ini apa yang terjadi??? Urus itu… huft… membuatku selalu ingin balik ke Solo.. kesanggupannya pada ibuku untuk mengawasiku, terlalu berat ya??? Membebanimu??? Damn!!!! Aku ingin memakiiiiiiiiiiiiiiii………………………………….… aaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…….
Menimbang-nimbang…. Kubalas sms dengan kalimat yang cukup singkat.. malam ini, aku berhenti.. hari itu mbak Retno digantikan Mbak Yani. Katanya, lumayan kalau aku bisa kuat di sana… ada banyak ilmu…. Yah, mau bagaimana lagi??
Pak Dimas menanyaiku, mengenai apa yang akan kubicarakan kemarin… untunglah Mas Evan keceplosan setelah aku menceritakan apa yang kualami. Malahan, dengan nada bercanda dia mau ngomongin itu ke Pak Dimas kalau aku tak berani ngomong…. Pada Pak Dimas, Mas Evan ngomong kalau ada yang mau kusampaikan.
Ini mungkin jalan yang harus kutempuh. Aku akhirnya pamit… dengan minta maaf dan sedikit menyesal…. Malam itu, terselesaikan tiga hari berhargaku. Setelah itu, aku terus berpikir ulang, mungkin memang akan sangat berat. Terlebih lagi tanpa restu orang tua. Namun, aku terus memikirkan bagaimana aku bisa menjalankan rencana ngekos. Kelihatannya peluang tipis.
Hari kamis. aku banyak ngobrol dengan budhe. Ini harus dibicarkan. Meski yang kuinginkan membicarakannya dengan ibu. Terus berpikir ulang, apa ngekos adalah salah satu bentuk keegoisanku saja?? Memikirkan ketidaknyamananku akhir-akhir ini, bapak ibuku… semuanya… memang sangat berat…
Kamis itu pula kualami sesuatu yang cukup tidak menyenangkan. Ganti ban motor yang belakang dengan yang second. Rem belakang menjadi sangat tidak enak digunakan.
Uangku yang terkumpul menyusut dengan cepatnya… ya, nasib….
Pagi tadi, hari cukup padat. Ke pusat ama Selly, perpus, rektorat, FIP, limuny, survei swimming pool, kampus tiga. Pikiranku masih agak blank. Tidak bisa diungkap jelas apa yang kurasakan. Kekhawatiran, ketakutan, entah. Aku berusaha menyerap sebanyak mungkin yang bisa kuserap.
Pulang, aku mendapat telpon bapakku. Aku minta maaf untuk kekhawatiran yang kusebabkan. Parahnya, ibuku memintaku minta maaf pada sepupuku juga. Heyyy??? Apa??? Belum untuk saat itu, aku belum bisa. Mungkin besok, menjelang pulang.
Besok aku diskusi pendidikan dan LKMM di pusat. Apa pula itu LKMM? Entah. Akhirnya aku hampir selesai menuliskan semua ini. Ah, andai aku bisa langsung nulis di laptop pasti lebih efisien. Yah, bagaimana lagi… aku pasti membuat listrik mati lokal kalau tancapkan laptop. Ini bukan rumah sendiri…. Beda kali kalau aku ngekos… ini salah satu dari banyak alas anku pengen banget ngekos.
Ah, trakhir, nyoba buat list ah…
Alasan pengen ngekos :
1. Kurang SDL
2. Bener kata ibuku, hidupku jadi kurang teratur karena kondisi warga
3. Ga betah karena **********************
4. Pada ******, termasuk aku
5. ***********
6. Sulit kalau mau lakukan rutinitas, misal setrika, dll
7. Merasa di********…
8. Aku males ngapa-ngapain disini
9. Pada g mau ngalah
10. Pada ngambekan
11. Berantakan
12. G***************mereka
13. Bukuku g terawat
14. Kurang privat
15. *************
16. *****************
17. Kamar mandi
18. Mereka terbebani
19. Pura-pura bisa ngurus aku
20. Bosen
21. Pengen suasana baru
22. Ga ********
23. Pengen mandiri
24. G *************
25. Terabaikan oleh diri sendiri
Kendala
1. Izin ortu
2. ******
3. Apa betah? Kan aku g betahan
4. Perlengkapan
5. Aku orang yang labil
6. Kepercayaan ortu
7. Nyari yang pas
8. Pendapat mereka???
Aku jadi males
1. Apatis
2. Sering habiskan waktu di kampus
3. G peduli
4. G pernah ****** lagi
5. G ngajarin pr
6. Seenak sendiri
7. Sesukaku
8. G niat hidup
9. Males kalau beraktifitas
Harapan :
1. Ortu ngerti
2. Pengalaman baru
3. Lebih terbuka
4. Tabungan
5. Kerja sambilan
6. Ikhlas
Ah, cukup ini catatan hari jumat…. Tidur.
Versi lengkap hanya bisa diakses dengan ketentuan tertentu….. ^^
Ditulis hari jumat, 18 maret, bersamaan dengan ultah teman baikku, tri utami…
Diketik di Solo, 20 Maret 2011. 12.24
Akiyuki Kyoshi (+_+)
keterbatasanku
Ketika fisik ini telah jauh terpisah oleh rentang waktu
Ataupun saat kalian di dekatku tapi aku tak mampu…
Untuk meyakinkan kalian…
Untuk menyemangati kalian…
Untuk menentramkan kalian…
Untuk tetap menjaaga senyum kalian tetap terkembang…
Untuk menepuk punggung tangan kalian…
Untuk memeluk kalian…
Untuk ikut berjalan bersama kalian…
Untuk ikut tertawa atau menangis bersama kalian…
Untuk memahami hati kalian…
Untuk membela kalian…
Untuk membuat kalian nyaman…
Untuk membuat diri ini peduli..
Ketika aku tak mampu..
Untuk duduk bersama..
Untuk memandang hilir mudik jalanan…
Untuk sepotong es yang sama dinginnya..
Untuk sebait lagu lucu…
Untuk mampir membeli sepotong roti…
Untuk bertukar pandang diplomasi…
Untuk mengulang waktu yang lalu…
Untuk memungkinkannya terulang demi sesuatu..
Ketika aku tak lagi mampu…
Kawan, bukan ini yang kumau…
Ketika sesuatu yang seperti dulu tak mampu kulakukan pada kalian…
Aku ingin dan yakin,…
Alloh tetap menjaga kalian untukku…
Maka, kembangkanlah senyummu…
Biaskan harta di dalam hatimu…….
Kawan, maaf jika keberadaan diri ini masih belum cukup berarti…
Yakinlah bahwa kalian adalah orang yang kuat dan kaya hati…
110311
Semangatlah dan jangan terlampau berduka..
Langganan:
Komentar (Atom)

