Jumat, 11 Desember 2020

Review Buku Kunci Kesuksesan

🗝️Kunci Kesuksesan
✏️ Penulis: Eric Kanadi & Anang YB
📓 Penerbit: PT Elex Media Komputindo
🗓️ Tahun: 2020
📖 Jumlah halaman: 234

🐾 Kurang lebih selama lima hari saya selesaikan membaca buku bersampul cokelat ini. Dilihat dari sampulnya, simpel dan mewakili isi buku keseluruhan. Diawali dengan pendahuluan, kunci kesuksesan #1-7, serta penutup.

🔄 Penulis menjabarkan masing-masing kunci kesuksesan dengan alur yang sistematis. Berawal dari permasalahan, sebab masalah itu muncul, serta jalan keluarnya. Ada banyak cerita orang-orang sukses yang membuat penjelasan mudah dipahami dan meningkatkan motivasi.

👥 Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, sehingga tetap relate meskipun yang membacanya bukanlah pebisnis. Hal yang paling menarik bagi saya adalah pembahasan Kunci Kesuksesan #1 Gambar Diri. Pembaca diajak untuk menggali lebih dalam mengenai gambar diri, kekuatannya, kaitannya dengan makna kesuksesan. Tips dalam setiap bahasan kunci kesuksesan, benar-benar menggugah diri untuk menggapai sukses.

❇️ Secara tampilan, saya suka dengan lay out dan huruf yang digunakan. Ada batas yang didesain tiap pergantian pembahasan Kunci Kesuksesan. Poin-poin bahasan dicetak tebal dan ada highlight yang memudahkan untuk merunut inti bahasan. Huruf yang digunakan tidak membuat mata lelah membaca. Gambar ilustrasi yang disertakan mendukung pembahasan.

✔️ Buku Kunci Kesuksesan, Ubah Kegagalan Jadi Keberhasilan mengajak kita untuk fokus pada diri sendiri dan potensinya, mendalami dan menjalani makna kesuksesan hidup. Cermati tiap kuncinya, kenali pintu-pintu kesempatan yang ada. Mari terus belajar untuk menemukan kunci dan pintu lainnya. Raih kesuksesan!

🌟 Saya merasa berterima kasih bisa membaca ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan pak @erickanadi melalui buku ini

#havitaxbooks
#selfimprovement
#bukumotivasi
#kuncikesuksesan
#erickanadi


Selasa, 02 Juni 2020

Menua

Mengerikan sekali apa yang akhir-akhir ini kupikir. Aku merasa sekelilingku berubah dengan sangat cepat. Mungkin karena aku terlalu banyak di rumah sehingga aku merasa lebih peka dengan perubahan yang terjadi.

Rumah yang sudah kutinggali sejak aku lahir memang rumah tua. Atapnya memang pernah diganti sesaat setelah aku lulus kuliah lima tahun lalu. Namun kini saat setiap malam aku memperhatikannya sebelum jatuh tertidur, aku semakin sadar bahwa nyatanya rumah ini jauh lebih tua dari usiaku.

Sumur yang sudah tak dipakai lagi semakin berlumut meskipun setiap pagi aku menyikat lantainya. Tanah yang kuinjak di depan rumah, kamar mandi, pagar rumah, semua seakan sangat rapuh.

Orang tuaku yang ternyata sudah sangat berusia. Aku khawatir bahkan saat mendengar suara batuk ibuku ketika beliau lelap tertidur. Begitu juga saat membonceng bahkan melihat ayahku mengendarai motor.


Lingkungan tempat tinggalnya juga terlihat tua. Jalan-jalan sempit dan selokannya seperti sudah lelah terbujur sekian lama. Retakan di jalan dan tambalan semen di sana-sini layaknya kerutan di wajah yang semakin renta.


Sementara diriku, aku tahu umurku bertambah. Hanya saja aku merasa terkadang tak bisa mengimbangi laju waktu. Merasa muda tak selamanya terasa menyenangkan. Begitu tidak sabar dengan diri sendiri. Terkadang ingin cepat melalui hari.


Akan sampai dimana waktu bisa membawaku?